Kenapa Mat jadi Psi?
Tadi gw ke Rumah Sakit, orang tua temen gw yang deket secara sosial dan rumah, lagi di rawat. Om Edi, bokapnya Ridho abis serangan jantung… Dan disitu tadi ada Awan, adenya Ridho, lagi belajar karena 3 hari ajaib minggu depan dia mau sehari 2 kali sehari, minum obat… ya enggaklah, UN kali… Dan di atas meja gw ngeliat, soal-soal matematika dasar.. Serentak gw langsung kangen, ngeliat turunan, ngeliat log-log an, ngotak-ngatik angka di luar kepala… Oh, I’m quite addictive in math, even I’m not smart enough to getting into competition… Kadar adiktifnya, gw punya NEM Mat SD 10 dari 10, yang mana merupakan suatu prestasi luar biasa buaanggeet karena waktu itu, gw tidaklah pintar (kayak sekarang jenius gitu?). Dan buat gw, itu cukup membangun self-esteem (PD) yang baik menurut kecerdasan Gartner bidang itung-itungan(?). Dan gw cukup percaya, bahwa gw cukup berbakat di bidang matematika, itu bahkan sampe SMA─setidaknya sekedar percaya diri aja meski terlalu rata2 untuk masuk seleksi lomba…
Kemudian *anyone notice, that I’m getting using almost Bahasa yang Baik dan Benar?* pertanyaan yang penting, kenapa jadi Psikologi sekarang, dan itu pilihan pertama lho *hehehehe, alhamdullillah*
Jawabannya :
Psikolog itu (katanya) orang yang cukup kurang kerjaan, karena neliti tidur, lupa, dan hal aneh-aneh lainnya. Motivasi, juga iya; dan itu termasuk kenapa para Penghuni Fakultas Psikologi bisa ada di Fakulatas Psikologi. Alasan lucu : Takdir. Alasan kasian : gugur SPMB, maunya akutansi atau hukum. Alasan khas-nan-klise-tapi-mayoritas-dan-emang-bener : Berobat Jalan. Data ini setidaknya cukup didukung dengan penelitian dari Mbak Liche… *Yaaah, ketahuan d emang orang gak bener semua disini… Hwahahahaha…*
So, just say that Curing myself first is the main reason… Gw cukup bermasalah mungkin, entah persepsi tentang diri gw udah kacau banget atau entah apa namanya, tapi kehidupan bersosial itu salah satu kelemahan yang terlihat jelas buat gw. Jadi kalo Adler bilang, karena gw inferior dalam hal itu, gw jadi berusaha sebisa mungkin untuk nutupin kebutuhan sosial tersebut. Akan tetapi, masih jadi pertanyaan kenapa juga psikologi…
Penjelasannya rada-rada nyeleneh, gara-gara komik Detective Conan dan Kindaichi. Jadi, mungkin karena rendahnya rasa sosial, terus gw seneng aja ngeliat Conan bisa ajaib nebak-nebak orang. Kalo kata Paul, itu impossible banget anak SD ngeliat selotip cuma 2 cm-an, tiba-tiba bisa gitu dia tahu proses pembunuhannya.
Oke, jadinya apa hubungan matematika, komik detektif, dan psikologi? Buat gw, yang mana gw juga baru nyadar, karena gw pengen ngutak-ngatik orang. Dalam arti, gw pengen bisa memprediksi tingkah laku orang, jadi gw bisa bertingkah laku yang sama. Di sini, kerasa matematika nya kan? Kayak ada rumus tingkah laku hidup untuk setiap detail. Mungkin sih lebih cocok jadi profile criminal. Tapi gw gak tahu itu apa, tahu dari film aja. Psikologi, disisi lain, kayaknya emang paling cocok (pake nada kayak iklan apa gitu..) This knowledge give me more than to learn other, it give me a chance to re-set myself and solve my problem, and also combine it with Islamic view.
—
So what we get from this? That even you like math, and had self-perception of being math genius, then you get social interactional problem, and got strange effect from Detective Manga, you can happily ever after with psychology that can get sync with Islam.
Still I must to learn a lot. Cuz, my knowledge if far far away from our galaxy *alah*. Jadi, gw mempunyai warisan-warisan kesalah bersosial gw. Gw baru tahu ternyata Ridho lagi pergi ke rumah Ivan, yang mana merupakan satu angkatan SMP sama gw, hanya saja belum disebut teman. Ivan, berada dalam kondisi yang seharusnya membuat gw sangat amat perlu dan sangat lagi beryukur, dia ternyata udah lama kena kanker otak. Dan apakah gw lupa pernah diceritain, atau tidak ada orang Chavidesto yang membicarakan ini sama gw karena berbagai alasan, itu dikesampingkan saja, tapi perlu gw pikirkan. Terus lagi, Ivan itu, punya ade namanya Bima, yang temen SMP ade gw, dimana Bimanya lagi menyeleasikan masa pianonya, 2 tingkat dari akhir. Gw 4 tingkat dari akhir, dan tidak terseleasikan.. Hmm.. sedih, tapi harus berjuang lagi untuk di tempat lain…. World is small eh?
DIarsipkan di bawah: Education, Life, Psychology and Islam | yang berkaitan: Motivasi, Syukur | Tidak ada komentar »